STIE Nobel Gandeng LLDIKTI IX Menggelar Bimtek Jafung Akademik Dosen

 

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nobel Indonesia merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta yang ada dibawah koordinasi LLDikti Wilayah IX Sulaseltrabar. Dalam rangka menambah wawasan terkait tugas dan tanggung jawab seorang Dosen, maka STIE Nobel pada Selasa (15/02/2021) telah mengadakan bimbingan teknis (bimtek) Jabatan Fungsional Akademik bagi Dosen di STIE Nobel Makassar, bimtek ini diselenggarakan di lantai dua ballroom STIE Nobel Indonesia, Jl Sultan Alauddin No. 212 Makassar.

Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 45 dosen STIE Nobel Indonesia dan dilaksanakan sejalan dengan kebijakan kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX guna meningkatkan pengetahuan mengenai jabatan fungsional akademik dosen khususnya bagi tenaga pendidik di lingkungan STIE Nobel Indonesia.

Selama kegiatan berlangsung penerapan protokol kesehatan juga diterapkan secara ketat agar meminimalisir penyebaran wabah Covid-19. Mulai dari mengukur suhu tubuh, menjaga jarak, hingga memakai masker bagi para narasumber dan peserta yang hadir pada bimtek tersebut. Hadir sebagai narasumber dalam bimtek jabatan fungsional ini ialah pegawai pada bagian Sumber Daya Perguruan Tinggi (SDPT) LLDikti Wilayah IX yaitu Markus Yan Patarru, S.Sos., M.M., Bakri, S.Sos., M.Si., dan Andi Faisal, S.E.

Ketua STIE Nobel Indonesia, Dr. H. Mashur Razak, S.E., M.M., dalam sambutannya menyampaikan, bahwa bimbingan teknis ini sangat penting bagi tenaga pendidik dalam melaksanakan unsur kegiatan tridharma perguruan tinggi. Salah satunya meningkatkan kualifikasi kepangkatan dosen. Dia berharap kegiatan ini dapat mendorong teman-teman dosen untuk bisa berpacu mengurus kenaikan pangkatnya masing-masing.

Ditemui terpisah usai kegiatan, Mashur Razak juga menuturkan tentang potensi-potensi yang bisa dikembangkan terkait dengan kualifikasi dosen.

“Peningkatan kualifikasi dosen ini cukup besar, di STIE Nobel Indonesia ada 25 asisten ahli yang berpeluang untuk ditingkatkan menjadi lektor, ada 25 lektor berpeluang ditingkatkan menjadi lektor kepala, dan ada 6 lektor kepala yang berpeluang ditingkatkan menjadi guru besar, sehingga kedepannya STIE Nobel ini mempunyai peluang beberapa tahun kedepan memiliki paling tidak 6 (enam) orang dosen yang mencapai jabatan fungsional guru besar,” tuturnya.

Mashur Razak juga mengatakan, salah satu indikator penilaian peringkat klasterisasi perguruan tinggi adalah rasio dosen guru besar dan lektor kepala. Semakin banyak dosen yang lektor kepala dan guru besar tentu semakin tinggi nilainya.

Diketahui sekarang ini, klasterisasi perguruan tinggi swasta (PTS) di wilayah Sulawesi yang dinaungi oleh LLDikti wilayah IX, STIE Nobel Indonesia ada di peringkat ketiga. Dari total 352 PTS, hanya 4 PTS yang masuk dalam kategori klaster 3 salah satunya adalah STIE Nobel Indonesia. Sedangkan khusus kategori sekolah tinggi, STIE Nobel Indonesia ada di peringkat pertama. Data ini berdasarkan pengumuman Dirjen Dikti tanggal 17 Agustus 2020.

“Kita mau supaya peringkat klaster kita ini tetap bisa dipertahankan. Bahkan target kita, tahun depan kita bisa masuk 100 besar perguruan tinggi terbaik di

Bimtek ini juga turut dihadiri oleh Wakil Ketua II, Bidang Administrasi dan Kerja Sama, Ridwan, S.E., M.Si., dan Wakil Ketua III, Bidang Kemahasiswaan, Mariah, S.E., M.Pd.

Indonesia”, harap Mashur Razak.

Sementara itu Wakil Ketua I Bidang Akademik STIE Nobel Indonesia, Dr. Ahmad Firman, S.E., M.Si., menambahkan bahwa kegiatan ini sangat penting tujuannya agar dosen paham tentang jabatan fungsional dan bisa meningkatkan jabatan fungsionalnya. Jabatan fungsional ini penting bukan hanya untuk pribadi dosen tapi juga untuk kampus.

“Peningkatan jabatan fungsional ini juga menjadi salah satu indikator kinerja dosen semakin bagus, baik dalam segi pendidikan, pengajaran, terutama dalam penelitian dan pengabdian, begitu juga di penunjang,” ungkapnya.

“Kalau kinerja dosen bagus, tentu kampusnya juga bagus, mahasiswanya pun tentu berkualitas,” tutup Ahmad Firman.

(LLDikti_IX/AndiTenriDioNasrun)